"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."
Home » , , , , , » Surat pembaca: Curhat untuk saudara-saudara kami di Papua Barat

Surat pembaca: Curhat untuk saudara-saudara kami di Papua Barat

Written By Menara Penjaga on Senin, 02 September 2013 | 10:32



Syalom!

Bukan hanya orang Papua yang merasa sedih dengan keadaan di Papua. Tidak hanya masalah kemiskinan dan ketertinggalan, tapi juga kasus-kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh oknum polisi atau militer tertentu. Itu semua menyakitkan hati kami.

Kami juga merasa prihatin dengan perkembangan saat ini, yaitu mengenai apakah Papua Barat akan memilih untuk tetap di tumpah darah Indonesia atau mau berdiri sendiri dengan bantuan negara-negara Barat.

Kami tahu ada juga rakyat Papua yang memeluk agama Islam, tapi sebagian besarnya adalah pemeluk agama Kristen, sama seperti kami di sini. Muslim dan Nasrani banyak kali diadu domba, dan ini juga yang menjadi keprihatinan kami.

Saya pribadi mempunyai keyakinan bahwa hati manusialah yang mendorong kelakuannya, apakah baik atau buruk. Fungsi agama sebenarnya adalah menerangi hati manusia itu supaya ia melakukan apa yang baik bagi sesamanya, bagi negerinya, bagi keluarganya, dan bagi dirinya sendiri.

Surat ini bukanlah untuk berceramah tentang agama, melainkan untuk memberi pertimbangan, sekiranya dapat membantu kita semua menghindari bencana yang lebih besar.

Kita semua berada di atas sebuah kapal yang telah dirompak dan masih terus dirampasi. Sejarah penjajahan itu kita semua alami, sekalipun cerita kita bisa berbeda-beda. Yang tak perlu saya tuliskan adalah apa akibatnya bagi kita semua.

Setelah penjajah angkat kaki (bukan oleh niatnya sendiri), kita semua berhadapan dengan kenyataan sejarah berdirinya negara-bangsa Indonesia, adanya kepentingan politik dan ekonomi global, dan kerinduan masing-masing daerah dan kelompok untuk maju dan sejahtera dengan budaya, agama, dan dengan sumber daya yang dimilikinya.

Ada berapa generasi bangsa Indonesia yang membayar harga mahal untuk sebuah kemerdekaan dan semua tragedi yang mengikutinya? Tapi seperti ungkapan para pejuang dulu: Merdeka atau mati! Kita semua ingin hidup dalam kemerdekaan, itu hak asasi. Karena itu, kita perlu memahami arti dari kemerdekaan kita sekarang ini dalam perdamaian dan keadilan.

Kekayaan tanah Papua dapat membuat seluruh rakyat Indonesia hidup berkecukupan. Namun, jangankan rakyat Papua sendiri, sebagian besar rakyat Indonesia masih hidup dalam kemiskinan yang parah.

Padahal ada banyak lagi sumber daya alam di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Maluku dan di ribuan pulau lainnya. Kita semua pernah dijajah, kalau sekarang sepertinya kita semua sedang dibodohi.

Siapa yang membodohi kita adalah pertanyaan penting. Apakah pembodohan datang dari diri kita sendiri, dari saudara sebangsa-negara kita sendiri, ataukah kita semua ternyata belum sungguh-sungguh merdeka?

Untuk mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya, tak hanya bagi rakyat Papua tapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia, sepertinya ada dua alternatif:

  1. Memajukan daerah masing-masing sedemikian memajukan Indonesia secara keseluruhan, atau
  2. bekerja sama dengan negara-negara tertentu yang menunjukkan niat ingin memajukan daerah tertentu dengan melepaskan diri dari Indonesia secara keseluruhan.

Mencari kemajuan lewat negara-negara tertentu yang mengatakan ingin memajukan Papua, terutama yang selama ini menghisap kekayaan sumber daya alam di Papua (dan di daerah-daerah lainnya), mempunyai resiko yang sangat tinggi. Hal ini juga berlaku untuk daerah-daerah lainnya di seluruh penjuru Nusantara.

Langkah ini dengan sendirinya akan men-destabilisasi Indonesia yang berarti seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat Papua, akan masuk dalam krisis dan resesi. Itu berarti menghambat pembangunan di seluruh negeri, termasuk di Papua sendiri.

Kemudian, sebuah konsekuensi yang kita harapkan akan segera hilang dari peradaban manusia, yaitu perang, akan menghantam seluruh rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya rakyat Papua.

Perang tak hanya berarti pelegitimasian pelanggaran HAM yang lebih berat terhadap rakyat, pihak pemerintah maupun mereka yang mengangkat senjata untuk cita-cita berdiri sendiri. Itu berarti sebuah tragedi kemanusiaan di Tanah Air Indonesia.

Hal ini akan berpengaruh langsung terhadap komunitas Kristen di Indonesia, di Asia Tenggara dan di Kepulauan Pasifik.

Tidak itu saja, krisis dan resesi berarti membuka jalur intervensi dari mafia-mafia global untuk mendiktekan kepentingannya, dan demikian terus menguasai semua sendi-sendi perekonomian negara-bangsa ini.

Mungkin sebagai hasilnya akan ada orang-orang tertentu yang kekayaannya menjadi melimpah, tapi bagaimana dengan rakyat Papua dan rakyat Indonesia lainnya di seluruh penjuru Tanah Air.

Kalau ada kepercayaan di antara seluruh rakyat Indonesia bahwa kita bisa betul-betul merdeka bersama-sama, tidak hanya secara politis dan ekonomi; dan bahwa kita bisa bekerja lebih keras lagi supaya Pancasila dihormati, kebebasan beragama dijamin, saling menghargai antar umat beragama bertumbuh, mungkin kita semua bisa menciptakan Indonesia yang lebih baik, dengan Papua Barat dan seluruh daerah lainnya yang lebih baik pula.

Sebagai masyarakat awam, saya melihat bahwa ada upaya untuk menggiring rakyat Papua Barat untuk memilih disintegrasi. Bagi saya ini merupakan ekspresi frustrasi yang beralasan. Namun, jika melihat situasi yang ada serta konsekuensi yang harus dihadapi jika langkah tersebut dimaterialisasi, maka hemat saya itu bukan pilihan yang terbaik.

Saya juga melihat bahwa ada upaya untuk memajukan tanah dan rakyat Papua. Format yang ada dan yang terus dikembangkan itu harus dilaksanakan oleh orang Papua sendiri dan melibatkan rakyat Papua untuk mengejar ketertinggalan di wilayah Papua Barat dan menegakkan martabat orang Papua.

UU Otonomi Daerah telah memberi ruang yang lebih luas bagi masing-masing daerah untuk mengembangkan potensi, mengolah sumber daya alam dan sumber daya manusia, dan memajukan masyarakatnya menurut kaidah-kaidah yang berlaku di masyarakat itu.

UU ini tidak semerta-merta menyelesaikan semua masalah yang ada, dan pada kenyataan ada pula masalah-masalah yang muncul karena ketidak-bijaksanaan dalam penerapannya. 

Namun, kehadirannya hendaklah menunjukkan bahwa cita-cita para pendiri negara-bangsa ini adalah untuk mensejahterakan setiap warga negaranya, melaksanakan demokrasi berdasarkan hikmat/kebijaksanaan dalam musyawarah, menjaga persatuan karena bersatu kita teguh, berjuang untuk kemanusiaan yang adil dan beradab secara global, dan pengakuan terhadap Yang Mahakuasa.

Tidak ada sistem atau filosofi kenegaraan yang lebih baik dari rumusan Pancasila. Adalah tugas kemanusiaan untuk menjaga, melindungi dan menghidupinya.

Demikian surat ini dengan kerendahan hati saya sampaikan kepada saudara-saudaraku di Papua Barat, dengan memohonkan tuntunan Tuhan bagi setiap warga dan pemimpin rakyat Papua. Apapun yang menjadi keputusan rakyat Papua biar kiranya Tuhan mengarahkannya untuk maksud-maksud-Nya yang terbaik, terutama bagi rakyat Papua Barat sendiri.

SS, Manado

Nama dan alamat ada pada redaksi.



Surat Pembaca dapat dikirim di alamat email menarapenjaga[a]gmail.com. Redaksi berhak mengedit surat pembaca tanpa mengubah arti. Surat Pembaca yang dimuat di MP tidak semerta-merta menunjukkan persetujuan MP dengan isi surat tersebut. 
Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger