"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Peran Gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peran Gereja. Tampilkan semua postingan

Presiden Yudhoyono : Gereja Katolik Manggarai menjaga nilai budaya dan kearifan lokal

Written By Ray Maleke on Minggu, 21 Oktober 2012 | 06:26

INDONESIA, Ruteng (20 Oktober 2012).

Sukacita umat Katolik Keuskupan Ruteng merayakan Yubileum 100 Tahun Gereja Katolik di Manggarai wajib disyukuri. Pemerintah RI mengucapkan selamat satu abad semoga gereja terus berperan dan berkontribusi membangun kehidupan yang religius, mencerdaskan kehidupan daerah, NTT dan bangsa.

"Saya nilai amat tepat, kita semua peringati satu abad kehadiran Gereja Katolik di Manggarai ini. Tepat, karena nilai sejarahnya. Kontribusi gereja di Manggarai bagi umat Katolik, masyarakat luas, bangsa dan negara," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam sambutan perayaan Yubileum 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai, di Lapangan Motang Rua, Ruteng, Jumat (19/10/2012) pagi.

Presiden SBY menegaskan, kontribusi Gereja Katolik perlu dicatat. Gereja sudah lama, secara tekun dan berlanjut memberikan bimbingan dan pendidikan kepada umat Katolik. Pendidikan dan kegiatan sosial untuk masyarakat luas serta berkontribusi membangun, menjaga kerukunan dan toleransi beragama.

"Saya ingin garisbawahi, sejarah menunjukkan bahwa pemimpin Agama [Kristen] Katolik, gereja di Manggarai sudah benar-benar mengembangkan kehidupan keagamaan tanpa meninggalkan nilai budaya dan kearifan lokalnya, jati diri sebagai bangsa Indonesia," ujarnya.

Presiden SBY mengatakan, "Harapan saya kepada pemimpin dan umat Katolik khususnya, dan pemimpin serta umat agama lainnya bahwa ke depan peran pemimpin agama amat penting. Indonesia berada dalam proses perubahan yang besar (transformasi). Kita melakukan transformasi menuju Indonesia yang maju di abad 21. Indonesia juga terus meningkatkan kualitas manusianya agar kita sungguh punya manusia Indonesia karakter unggul dan maju."

Menurut SBY, agenda besar bangsa ini meningkatkan dan menjaga persaudaraan, harmoni, hidup rukun, toleransi dan sikap hormat. Untuk menyukseskan agenda tersebut, pemuka agama punya peran yang amat penting.
"Pesan saya kepada pemuka agama di seluruh Indonesia terus bimbing umat dan jemaat untuk menjalankan ajaran dengan benar. Dan, teruslah menjadi contoh dalam sikap, tutur kata dan tindakan yang sejuk. Berikan teladan dan kepemimpinan dalam menyelesakan setiap perselisihan. Sekali-kali, kita sebagai manusia, hampir terjadi perselisihan. Cari solusi dan memimpin selesaikan soal secara damai. Jauhi kekerasan dalam bentuk apapun," tegas Presiden SBY.

Kehadiran Presiden SBY di Ruteng mendapat apresiasi bagus dari masyarakat. Persaudaran, keakraban tampak kental dalam perayaan yang dihadiri sekitar 6.000 orang warga Kota Ruteng yang berjubel memenuhi Lapangan Motang Rua. Seluruh area dalam lapangan di jantung kota itu disesaki manusia. Pria, wanita, anak-anak dari berbagai latar belakang dan status sosial ingin menyaksikan langsung Presiden SBY.

Tujuh orang uskup, puluhan imam, suster, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pendidikan Nasional, Muhamad Nuh, Menteri Kesehatan, dr. Nafsiah Mboi, MPH, Manter Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono, Gubernur dan Wagub NTT, Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, Bupati dan Wabup Manggarai, Drs.Christian Rotok, dan Dr. Deno Kamelus, S.H,M.H, mantan Gubenur NTT, dr. Ben Mboi, pejabat militer, sipil dari luar NTT dan dalam daerah sekitarnya. (PosKupang via Kabar Gereja)

Pekan kelabu di Manado: Perlu revitalisasi peran sosial dan pastoral Gereja

Written By Menara Penjaga on Rabu, 17 Oktober 2012 | 07:02

INDONESIA, Manado (17 Oktober 2012).
 
Dalam sepekan terakhir, telah terjadi empat kasus gantung diri di Manado, Sulawesi Utara. Tiga orang dinyatakan meninggal dunia, sedangkan seorang bisa diselamatkan, demikian dilaporkan detikNews.
 
Korban gantung diri yang meninggal teridentifikasi dengan nama JK (48), meninggal di Kebun Desa Wori, Minahasa Utara, KA (41), warga Kel. Tumumpa Dua, RL (18) siswa SMK Sola Gratia Tongkaina, dan RT (17), warga Mahawu, Tuminting, yang sempat diselamatkan warga.
 
Kejadian yang sangat disayangkan ini tentunya tak lepas dari pergumulan pribadi, status kesehatan fisik dan mental para korban. Namun tak lepas dari itu semua adalah keadaan keluarga dan masyarakat di mana mereka hidup.
 
Refleksi bagi gereja
 
Peristiwa seperti ini menjadi refleksi bagi gereja dalam menjawab panggilannya sebagai terang dunia, yaitu memainkan peranannya yang penting dalam mewujudkan suatu iklim bermasyarakat yang kondusif.
 
Panggilan diakonia dan marturia gereja perlu diejawantahkan ke bidang pendampingan pastoral, dengan fungsi pengingat, penguat, pendorong, pemberi pelayanan karitatif, serta referensi kepada masyarakat ketika diperlukan, yaitu pihak profesional (psikolog, psikiatri).
 
Tak menutup kemungkinan gereja dapat membentuk bidang khusus yang melayani orang-orang yang mempunyai pikiran untuk melakukan bunuh diri, sekaligus memberikan konseling bagi keluarga, rekan siswa yang mengalami trauma.  
 
Kiranya Tuhan menghiburkan keluarga para korban (MP).

Memberi dengan ucapan syukur

Written By Ray Maleke on Minggu, 09 September 2012 | 11:38

Persembahan janda miskin
(Gambar: biblekids.eu)
Renungan

Bacaan Alkitab: 2 Korintus 9:6-15

Baru-baru ini ketika menghadiri sebuah ibadah Minggu pagi di Waverly-Bethel Presbyterian Church, West Virginia (USA), hatiku merasa kikuk karena tidak ada persembahan di saku. Ketika nampan persembahan berlalu di depanku rasa itu masih ada bersama diriku, mengingatkan saat-saat di kampung halaman di Tondano ketika hati ingin ke gereja, tapi ada keengganan karena tidak ada uang untuk persembahan. Tapi pengalaman itulah yang justru telah membuat aku mengerti. Belajar dari kisah janda miskin (Lukas 21:1-4), aku memahami bahwa ada waktunya aku harus ikhlas memberi seratus uang logam, atau hanya membawa diriku, pujian dan doaku ke gereja/persekutuan ibadah. Dan itu tidak apa-apa.
 
Bacaan Alkitab di atas berbicara juga tentang persembahan. Kali ini rasul Paulus menulis untuk mengingatkan jemaat di Korintus tentang pentingnya memberi persembahan untuk menopang jemaat di Yerusalem.
 
Jika kita membaca 1 Korintus 11, kita dapat memahami bahwa di antara jemaat Korintus terdapat perbedaan tingkat ekonomi; dari yang punya sampai pada yang tak ada apa-apa. Namun seperti umumnya jemaat-jemaat Kristen mula-mula, kebanyakan anggota jemaat dapat dikategorikan pada ekonomi lemah.
 
Rasul Paulus memahami benar keadaan ini, namun ia mengingatkan mereka tentang prinsip menabur. “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Penting untuk digarisbawahi adalah motivasi memberi persembahan bukanlah ketamakan atau ketakutan, melainkan rasa syukur. Hanya dengan demikian kita bisa memahami ungkapan rasul Paulus: “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”
 
“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.
 
“Seperti ada tertulis: 'Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.'
 
“Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.
 
“Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.”
 
Dari ungkapan surat ini kita dapat belajar bahwa orang Kristen mempunyai tanggung jawab untuk menopang pelayanan. Hal ini tidak hanya dipahami dari segi materi, melainkan juga tenaga, waktu, dan pikiran kreatif anggota jemaat.
 
Namun pada saat yang sama pelayanan adalah untuk membangun dan menopang jemaat sendiri, baik secara internal maupun eksternal. Sebagai salah satu contoh, jemaat-jemaat di lingkungan Gereja Masehi Injili di Minahasa mempunyai program diakonia karitatif, di mana keluarga yang sakit atau berduka mendapat bantuan dana dari gereja. Dalam konteks yang lebih luas, persembahan uang adalah juga untuk menopang pendidikan Kristen, sekolah teologi, penyiaran gereja, dan kehidupan para pelayan (pendeta) dan keluarganya, termasuk program-program pemberdayaan masyarakat.
 
Namun sempitlah pemahaman gereja jika semata-mata tertumpu pada uang yang hanyalah alat pelayanan. Yesus Kristuslah inti pelayanan, persembahan dan pemberitaan jemaat. Karena itu, jadilah keluarga Kristen yang bersyukur, bukan bersungut-sungut; sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.***
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger