"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama. Tampilkan semua postingan

Kabar baik untuk yang senang pelajaran Agama di sekolah

Written By Menara Penjaga on Rabu, 22 Mei 2013 | 02:20

Sosialisasi kurikulum 2013 (foto: Setkab RI)
INDONESIA, Yogyakarta -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, Kurikulum 2013 dikonsep untuk memperkukuh kompetensi siswa dalam tiga hal, yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dari sisi konsep, setiap mata pelajaran dalam Kurikulum 2013 harus mempunyai kompetensi dari tiga hal itu.

Saat melakukan melakukan sosialisasi Kurikulum 2013 di hadapan pengurus NU, Pengurus Ma'arif, Kepala Sekolah, dan perwakilan siswa/santri NU se-Yogyakarta di Yogyakarta, Rabu (15/5), Mendikbud M. Nuh yang didampingi Menteri Agama (Menag) Surya Dharma Ali mengatakan, tantangan bangsa Indonesia ke depan semakin berat, dan kompleksitas juga bertambah.  Karena itulah, dunia pendidikan juga harus dipersiapkan dalam menghadapi tantangan ke depan.

Menurut Mendikbud, generasi bangsa harus memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi yang berdasarkan intellectual curiousity, atau rasa kepenasaranan intelektual sehingga diharapkan mampu mengatasi persoalan-persoalan yang makin kompleks. 

 “Kurikulum 2013 mengandalkan pentingnya sikap sebagai pengetahuan dan keterampilan, termasuk mengembangkan kemampuan berpikir,” tegas M. Nuh dalam acara yang digelar seusai apel akbar dalam rangka memperingati hari lahir Nahdatul Ulama (NU) ke-90 itu. 

Menurut Mendikbud, konsep Kurikulum 2013 dibuat setelah melakukan evaluasi ulang ruang lingkup materi, di antaranya meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan lagi dengan siswa, serta menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional. Sehingga evaluasi ulang dalam kedalaman materi disesuaikan dengan tuntutan perbandingan internasional. Salah satunya adalah dengan mengutamakan proses pembelajaran yang mendukung kreativitas.

Terkait dengan mata pelajaran Agama, Mendikbud M. Nuh menjelaskan, bahwa dalam Kurikulum 2013 Agama akan ditambah menjadi empat jam pelajaran, dari sebelumnya dua jam pelajaran. Di dalam mata pelajaran agama tersebut akan dimasukkan pula pelajaran budi pekerti.

"Pelajaran agama Islam ada budi pekerti, pelajaran agama Kristen ada budi pekerti, pelajaran agama Budha ada budi pekerti, pelajaran agama Hindu ada budi pekerti. Semuanya kita angkat dari nilai-nilai keagamaan kita," jelas Menteri Nuh.

Dalam paparannya, Menteri Nuh menjelaskan hasil penelitian yang diambil dari Dyers, I.H. Et al (2011), Innovators DNA, Harvard Business Review. Dijelaskannya, 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, sedangkan 1/3 sisanya berasal dari warisan genetik. Sementara kebalikannya berlaku untuk kemampuan intelejensia, yaitu 1/3 pendidikan, dan 2/3 sisanya dari warisan genetik. 

Atas dasar itu, lanjut M. Nuh, dalam Kurikulum 2013, siswa akan didorong untuk memiliki kemampuan kreativitas yang diperoleh melalui observing (mengamati), questioning (menanya), associating (menalar), experimenting (mencoba) dan networking (membentuk jejaring).

Judul asli: Kurikulum 2013: Pelajaran Agama Ditambah Jadi Empat Jam (Setkab RI).

Realitas menggelikan masyarakat beragama di Indonesia

Written By Ray Maleke on Jumat, 19 April 2013 | 04:09



Judul di atas membutuhkan beberapa penjelasan.

Yang pertama “menggelikan,” bukan karena lucu, tapi saking bodohnya realita ini tampak di depan mata dunia. Kita katakan Indonesia adalah negara Pancasila (Sila Pertama: Ketuhanan Yang Mahaesa), tapi rumah ibadah dibongkar.

Siapa yang melakukannya? Ini yang lebih mengelikan lagi: pemerintah dan masyarakat beragama lainnya.

Yang kedua “masyarakat beragama di Indonesia.” Untungnya gambaran ini bukan mewakili seluruh umat beragama di Indonesia. Tapi kenyataan bahwa ini terjadi di Indonesia perlu mengundang refleksi dari seluruh umat beragama.

Bayangkan jika anak-anak yang muncul di video ini kelak menjadi pemimpin dengan pola pemikiran “agama saya yang paling benar” dan “orang beragama lain tidak boleh ada di dekat saya” maka judul di atas tak perlu memakai nama “Indonesia,” karena pada waktu itu Indonesia sudah tidak ada lagi.

Pancasila pun akan dianggap sebagai ideologi yang gagal (jadinya yang menang adalah antara sekularisme-anti-theisme atau [mono]religio-otoritarianisme).

Karena itu, kalau kita menghargai founding parents negara Indonesia dan keanggunan filosofi Pancasila, pintar-pintarlah memilih pemimpin. Jangan terjadi sama seperti di Bekasi. Bikin malu saja...



Hasil poll: Kebanyakan warga Inggris mendukung pengajaran Agama Kristen di sekolah

Written By Menara Penjaga on Jumat, 30 November 2012 | 02:55

Merton College Chapel, Oxford
(foto: pravoslavie)
INGGRIS, London (29 November 2012).

Hampir dua-pertiga orang dewasa yang menjawab survey yang dilakukan oleh Oxford University mengatakan mereka mendukung pengajaran agama Kristen di sekolah-sekolah, dan dua-perlima mengatakan bahwa mengajarkan tentang iman perlu mendapat perhatian lebih dalam pelajaran pendidikan agama.

Oxford University menanyakan kepada 1.800 orang apakah mereka ingin agama mayoritas diajarkan di sekolah-sekolah, dan hasilnya menunjukkan bahwa 64 persen mendukung pelajaran agama Kristen kepada murid-murid untuk membantu mereka memahami sejarah Inggris.

Survei ini adalah bagian dari proyek baru departemen pendidikan Oxford yang bertujuan untuk membantu para guru dalam mengajarkan agama utama di Inggris dalam pelajaran pendidikan agama.

Sejumlah 43 persen dari responden mengatakan lebih banyak perhatian perlu diberikan untuk mengajar Agama Kristen dalam pelajaran agama, 37 persen mengatakan banyak guru pendidikan agama tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Agama Kristen untuk dapat mengajar secara efektif.

Ditanyakan topik apa dalam Agama Kristen yang perlu diajarkan kepada anak-anak, 58 persen mengatakan sejarah Kristen, 56 persen mengatakan pengetahuan tentang hari-hari besar seperti Paskah dan Natal, dan 51 persen mengatakan cara orang Kristen membedakan yang benar dan yang salah.

38 persen di antaranya mengatakan Alkitab harus diajarkan di sekolah, dan 30 persen mengatakan siswa harus diajarkan Doa Bapa Kami.

Pendidikan agama diwajibkan di sekolah-sekolah negara bagi murid berusia lima sampai 16 tahun.

Departemen pendidikan mengungkapkan bahwa para inspektur telah menyuarakan keprihatinan tentang bagaimana pendidikan agama diajarkan di sekolah-sekolah. "Salah satu masalah yang diidentifikasi dalam literatur penelitian ini adalah bahwa guru kadang-kadang gugup menangani masalah yang berkaitan dengan Agama Kristen karena mereka khawatir bahwa hal itu bisa dianggap sebagai penginjilan."

John Keast, ketua Dewan Pendidikan Agama Inggris dan Wales, juga mengatakan laporan inspeksi menunjukkan bahwa ajaran Kristen terlalu lemah. "Penelitian dan pelatihan merupakan kunci untuk meningkatkan pengajaran semua aspek dari Pendidikan Agama (
Religious Education), tetapi dengan sangat dikuranginya kesempatan untuk guru PA mengakses pelatihan yang berkualitas baik saat ini, inisiatif ini merupakan langkah awal ke depan," demikian ungkapnya seperti dikutip The Telegraph.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa pemerintah Inggris telah menjauhkan masyarakat dari pendidikan Kristen yang mereka cari, dengan cara menjauhkan diri dari akar kekristenan negara itu dan telah terlampau hati-hati supaya tidak dinilai sebagai "imperialis budaya."

Baroness Sayeeda Warsi, perempuan Muslim pertama yang diangkat sebagai menteri di kabinet Inggris mengatakan baru-baru ini bahwa Inggris harus menjadi negara di mana orang tidak malu untuk mengatakan mereka adalah orang Kristen.

"Kita perlu menciptakan sebuah negara di mana orang bisa bangga iman mereka tanpa merasa malu – [negara] di mana mereka tidak merasa bahwa mereka harus meninggalkan agama di depan pintu," ungkap Lady Warsi, yang juga adalah salah satu ketua Partai Konservatif, dalam sebuah artikel di Daily Telegraph. "Itu berarti bangga dengan kekristenan, dan tidak merendahkannya." (The Christian Post)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger