"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Para pemimpin Kristen, Muslim dan Yahudi menyerukan perdamaian dari Bosnia Herzegovina

Written By Menara Penjaga on Senin, 17 September 2012 | 03:58

BOSNIA HERZEGOVINA, Sarajevo.
Dari Bosnia Herzegovina, tempat di mana kekejaman terburuk dilakukan di Eropa sejak Perang Dunia II, para pemimpin gereja Ortodoks, Katolik Roma, Muslim, dan Yahudi dan sejumlah pejabat negara berkumpul dalam Konferensi Perdamaian Internasional (9-11 September 2012) dan menyerukan panggilan mendesak untuk terciptanya perdamaian.

Patriark Irinej dari Gereja Ortodoks Serbia mengungkapkan harapannya supaya semua yang hidup di wilayah Balkan dapat terhindar dari “pengalaman yang tragis dan menyakitkan di masa lalu.” Ia turut menekankan "komitmen masyarakat Serbia untuk memperkokoh perdamaian," demikian dilaporkan CapitalFM News

"Saya sungguh-sungguh berharap agar generasi baru akan tumbuh dewasa tanpa perasaan kebencian dan kiranya mereka dilindungi dari pengalaman mengerikan dari suatu konflik," kata Patriark Irinej dalam kata sambutannya dalam pertemuan tahunan di gedung pertemuan komunitas awam Katolik Sant'Egidio di Sarajevo yang dihadiri beberapa ribu orang.

Perang Bosnia1992-1995, dalam mana tiga kelompok etnik utama - Ortodoks Serbia, Katolik dan Muslim Kroasia – berperang antara satu dengan lain, menyebabkan 100.000 orang tewas. Hubungan antara ketiga kelompok etnik ini tetap masih belum pulih setelah 17 tahun berikutnya.

Sebelumnya, dalam sebuah liturgi di gereja Ortodoks Serbia di Sarajevo Patriark Irinej mengungkapkan, "Kita harus membawa dalam diri kita sendiri benih-benih perdamaian dan menyemaikannya di manapun kita berada."

Uskup Agung Sarajevo Kardinal Vinko Puljic dan beberapa pimpinan gereja Katolik Roma juga menghadiri ibadah itu.

"Di Bosnia, setiap orang berdoa menurut ketentuan-ketentuan yang dianutnya. Kota ini dan negara ini layak memperoleh hak istimewa itu," ungkap Kardinal Puljic.

Pimpinan Islam Bosnia, ulama Mustafa Ceric, menekankan bahwa di Sarajevo tidak pernah ada energi spiritual yang begitu besar seperti hari ini," sambil mengingatkan korban perang Bosnia, terutama selama pengepungan Sarajevo di mana sekitar 11.000 orang tewas.

"Para korban ini meminta komitmen kita untuk memelihara perdamaian dan menciptakan rekonsiliasi, dan mereka mengundang keterlibatan tulus kita semua di hadapan Allah dan kemanusiaan bahwa kita akan melakukan segalanya supaya tidak ada orang di dunia akan melalui tragedi demikian ini," ungkap Ceric.

Pendiri komunitas Sant'Egidio yang pada saat ini menjabat sebagai Menteri Kerjasama Internasional dan Integrasi Italia, Andrea Riccardi, mengajak masyarakat untuk memiliki rasa belas kasih bagi korban dari pihak lain.

"Kita harus berlaku adil, [karena] kenangan akan perang memang berbeda, tetapi rasa sakit dan penderitaan yang dialami semua orang adalah sama," katanya.

"Rasa sakit yang terpatri dalam hati setiap orang dan rasa sakit dari setiap ibu adalah sama, tanpa memandang etnis atau agama seseorang," kata Riccardi.

Selama pertemuan di Sarajevo, sekitar 200 pemimpin agama dan pejabat pemerintahan menghadiri sekitar 30 konferensi yang membahas terutama masalah kemiskinan, imigrasi, agama di Asia dan dunia Arab, dan dialog antara Kristen dan Muslim.

Press TV melaporkan bahwa konferensi ini menyampaikan sebuah pesan yang jelas, bahwa dialog terbuka antaragama dan antarbudaya dapat membawa masyarakat pada masa depan yang lebih baik. (MP)
Share this article :

0 komentar :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger