"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Damaskus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Damaskus. Tampilkan semua postingan

Menlu Suriah: Senjata kimia adalah propaganda AS untuk menjatuhkan pemerintah di Damaskus

Written By Menara Penjaga on Selasa, 02 Oktober 2012 | 00:07

Suriah (foto: tribunnews)
SURIAH, Damascus (gulfnews.com, 1/10/12).

Amerika Serikat ingin menggulingkan pemerintah Damaskus dengan cara meningkatkan kekhawatiran mengenai adanya senjata kimia, skenario serupa dipakai sebagai legitimasi invasinya ke Irak, demikian diungkapkan Menteri Luar Negeri Suriah Walid Mua'alemdalam sebuah wawancara yang disiarkan hari Senin.

"Masalah ini [senjata kimia] adalah buatan pemerintah Amerika," kata Mua'alem kepada sebuah saluran TV berbasis di Beirut, Al Mayadeen TV dalam sebuah kutipan wawancara yang akan disiarkan secara penuh hari Senin. 

"Senjata kimia ini jika ada di Suriah - dan saya menekankan jika - bagaimana mungkin kami akan gunakan terhadap masyarakat kita sendiri? Ini lelucon," katanya dalam sebuah wawancara.

"Tapi ini tentunya tidak berarti bahwa Suriah memiliki cadangan senjata kimia atau bahwa Suriah berniat untuk menggunakan senjata terhadap rakyatnya sendiri ... itu adalah mitos yang mereka diciptakan untuk meluncurkan kampanye melawan Suriah seperti yang mereka lakukan di Irak," ungkapnya dalam sebuah wawancara di sela-sela pertemuan Majelis Umum PBB di New York.

Sebuah koalisi pimpinan AS telah menginvasi Irak pada Maret 2003, atas tuduhan bahwa Saddam Hussain memiliki senjata pemusnah massal. Tidak ada senjata seperti itu ditemukan di Irak. 

Baca selengkapnya di sini.

Politik agama di Suriah mengundang malapetaka bagi umat Kristen

Written By Ray Maleke on Rabu, 08 Agustus 2012 | 22:00

Suriah (foto: tribunnews)
Situasi di Suriah telah mendorong gelombang pengungsi ke negara-negara tetangga di Timur Tengah. Umat Kristen dan minoritas lainnya sedang menghadapi keadaan yang lebih sulit dibanding kesengsaraan masyarakat Suriah lainnya.

Perang di Suriah saat ini tak hanya antara pemerintah dan pihak oposisi, tapi juga menyangkut kekuasaan dari sudut geopolitik global. Suriah berbatasan langsung dengan Israel dan keduanya masih tegang berhubungan dengan dataran tinggi Golan yang diduduki Israel tahun 1967.

Baik Amerika Serikat (AS) dan gerakan politik Islam melihat kepentingan besar di Suriah.

Umat Kristen mengakui mempunyai tingkat kebebasan beragama yang relatif baik di bawah pemerintahaan Bashar al-Assad, dan tekanan dari kelompok pemberontak akan menyudutkan umat Kristen untuk memilih buah simalakama.

Jika benar bahwa masyarakat Kristen, yang dianggap sebagai pendukung pemerintah Assad, diancam dengan kekerasan apabila tidak memihak kelompok pemberontak, maka hal ini dapat berarti sebuah ketukan hukuman mati bagi Kekristenan di Suriah. Karena untuk memilih di antara keduanya, itu berarti menaruh umat Kristen pada posisi target. Tak ada yang dapat memastikan masa depan Kekristenan di negara di mana para pengikut Kristus untuk pertama kalinya disebut Kristen itu.

Sekarang ini AS dan gerakan politik Islam nampak berkolaborasi untuk menumbangkan pemerintah Assad, jika nasib berkehendak demikian, bagaimanakah bentuk negara Suriah setelah perang sipil ini? Apakah nantinya ada sequel (seri 2) di arena ini?

Sekarang ini bola masih berada di lapangan. Rusia dan Cina, dua negara adidaya, paling tidak sudah tiga kali memblok resolusi PBB untuk sangsi yang lebih berat bagi Suriah, termasuk tekanan militer. Iran yang sedang dalam posisi tegang dengan musuh bebuyutan Israel dan AS telah menyatakan mendukung Suriah.

Bagaimanakah kelanjutan sejarah Suriah, dan terlebih khusus umat Kristen di sana? Kita lihat saja nanti. Ini tentu saja adalah penantian dengan doa.

Sebuah refleksi. Jika saja politik yang menyangkut kekuasaan dan dominasi ini tidak melibatkan isu agama, setidaknya akan lebih kurang masyarakat sipil tak bersalah yang harus dikorbankan atas nama pencarian hubungannya dengan Tuhan. Sayang, politik dan agama, atau yang menjadikan politik sebagai agama, telah menjadi alat untuk menyabet kekuasaan dan dominasi.

Tidak ada kekuatan politik atau institusi agama yang dapat mencegah tragedi kemanusiaan seperti ini, tapi malapetaka demikian mungkin dapat dihindari jika setiap orang yang mencari Tuhan dan kebajikan menyatakan TIDAK pada politisasi agama untuk kekuasaan dan dominasi, dan hidup menghargai nilai-nilai kehidupan.***

Suriah: Para suster membantu pengungsi Muslim dan Kristen

Written By Menara Penjaga on Kamis, 26 Juli 2012 | 05:56

Salah satu sudut kota Damaskus
(foto: Republika)
SURIAH, Damaskus (21/7)
Para pengungsi di wilayah konflik Suriah datang setiap hari ke gereja Bait Tabbaleh untuk mendapatkan bantuan. Gereja ini didedikasikan untuk mengingat pertobatan Rasul Paulus di Damaskus ketika mengejar-ngejar orang Kristen.

Pengelola gereja ini, yakni para rahib ordo Fransiskan dari Custody of the Holy dan para suster misionari Hati Maria Tak Bernoda, telah menyambut delapan keluarga untuk menetap di situ dan memberikan perawatan bagi 45 keluarga, baik orang Kristen maupun Muslim.

Keluarga-keluarga ini mengungsi dari Damaskus. Mereka adalah korban sipil bentrokan antara tentara Suriah dan kelompok oposisi bersenjata yang dalam beberapa hari ini telah membakar kota Damaskus.

"Kami berjalan dalam pengharapan dan mencoba untuk menghibur semua orang yang berada dalam saat-saat tragis ini," ungkap Fr. Romualdo Fernandez OFM, pemimpin gereja. Dia bercakap-cakap dengan banyak orang yang datang setiap hari untuk berdoa di gereja. Seringkali sebuah lingkaran yang yang terdiri atas umat Kristen dan Muslim terbentuk secara spontan dan mereka berdoa bersama untuk perdamaian dan meminta perlindungan Allah dan dari Bunda Maria.

Suster Suo Yola, salah satu yang membantu para pengungsi setiap hari, mengatakan pada Fides: "Kami mengupayakan yang terbaik untuk membantu keluarga-keluarga pengungsi. Orang-orang menangis dan mengharapkan keadaan yang lebih baik. Biaya hidup sangat tinggi, tak ada obat-obatan, penderitaan sebagai dampak embargo semuanya dirasakan oleh penduduk sipil dan yang termiskin. Kami berharap dan berdoa bahwa penderitaan ini akan segera berakhir.”

"Kami tidak punya rasa percaya pada yang disebut 'revolusioner' ini. Siapa revolusioner yang menyakiti masyarakat? Mereka telah rusak semua, baik Kristen atau Muslim, banyak keluarga yang telah kehilangan segalanya.

"Tindakan-tindakan dengan menggunakan senjata dan penderitaan ini tidak ada hubungannya dengan agama. Kami telah hidup berdampingan dengan umat Muslim dan akan terus demikian. Pemerintah Suriah yang selama ini adalah sekuler [tidak menganut satu agama negara, red], telah memberikan keamanan dan stabilitas di Suriah. Sekarang yang kami miliki hanyalah kekacauan, ketidak-amanan, dan penderitaan. Apa yang akan terjadi besok? Tetapi sebagai orang Kristen, kami tahu bahwa Allah melindungi kami dan pengharapan kami akan tetap hidup. Dan sebagai orang Kristen, kami tahu pasti: kami tidak akan pernah meninggalkan Suriah." (ICN)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger