"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Nelson Rolihlahla Mandela. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nelson Rolihlahla Mandela. Tampilkan semua postingan

Belajar dari kelebihan dan kekurangan Nelson Mandela

Written By Menara Penjaga on Senin, 16 Desember 2013 | 03:35

Nelson Mandela ketika muda (foto: Wikipedia).
Mantan presiden Afrika Selatan, Nelson Rolihlahla Mandela, berpulang pada Kamis 5 Desember 2013, dalam usia 95 tahun. Kelebihan hidupnya mewarnai berbagai media, sebagian turut memuat apa yang dinilai sebagai kekurangannya.
Banyak hal yang telah dilakukan Tata Madiba, demikian panggilan akrabnya (tata berarti Bapak dan Madiba adalah nama klan suku Xhosa), dan banyak orang yang ingin menghitungnya sebagai pahlawan di pihaknya.
Ia adalah seorang figur besar yang memberi inspirasi.Seperti kata pepatah: Tak ada gading yang tak retak. Namun, Mandela tetaplah seorang guru besar. Ia akan diingat sebagai figur yang mengakhiri sistem yang menodai kesakralan etnisitas (apartheid) dan martabat manusia secara keseluruhan.
Tak terhitung ungkapan penghargaan yang diutarakan untuk mengenang pemimpin besar Afrika ini; di antaranya datang dari seorang pemimpin gereja dari Afrika Selatan (Afsel), Pastor PJ Smyth. Dalam tulisannya, yang dimuat oleh Christianity Today, ia memberi enam alasan mengapa ia menjunjung tinggi mendiang Nelson Mandela:
Yang pertama adalah “kerendahan hati dan belas kasih seperti Yesus” yang dimiliki Tata Madiba. Menurut Ps Smyth, Tata memperlakukan anak jalanan dan presiden dengan penghargaan yang sama.
Kedua adalah pemikirannya yang melampaui generasinya.
Ketiga adalah komitmennya untuk memperjuangkan keadilan sosial dan keharmonisan etnik/ras di Afsel.
Keempat rasa humornya di tengah tanggung jawab yang berat.
Kelima teladannya dalam menyikapi penderitaan.
Dan “lebih dari semua itu” tulis Ps Smyth, “kami menghormati Mandela untuk menunjukkan teladan pengampunan dengan cara yang sama seperti Kristus.”
Jalan kehidupan
Nelson Mandela dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena menentang sistem yang meminggirkan masyarakat Afrika di tanahnya sendiri.
Setelah 27 tahun menjalani masa hukuman yang dijatuhkan padanya, ia dibebaskan, dan lewat pemilihan umum ia menjadi presiden orang Afrika pertama di Afrika Selatan.
Ia pun merangkul lawan-lawan politiknya (yang didominasi oleh settlers) untuk membangun Afsel bersama.
“Nelson Mandela memiliki semua alasan untuk membenci. Tapi sebaliknya, ia mengajarkan dunia bagaimana mengampuni,” demikian kata-kata di sampul belakang sebuah DVD dari Discovery Channel yang dikutip oleh Ps Smyth.
Nelson Mandela (Foto: REUTERS/Mike Hutchings).
Namun Mandela kemudian tidak hanya dikenal sebagai seorang yang “mengampuni,” ia juga berupaya untuk membela hak-hak orang miskin, yang mengambil bagian dalam perang terhadap HIV/AIDS, termasuk advokasinya untuk hal-hal yang menjadi kritik baginya.
Misalnya dalam isu pembunuhan bayi tak bersalah (aborsi).
Uskup Rhode Islands Thomas Tobin berucap, “Kami mendoakan istirahat yang damai bagi jiwa abadi Presiden Mandela dan pengampunan dosa-dosanya, kami hanya menyayangkan pekerjaan mulia yang ia lakukan dalam membela martabat manusia tidak menyertakan anggota termuda dari keluarga manusia kita, yaitu anak-anak yang belum lahir,” demikian dikutip LSN.com.
Tahun 1996 ketika menjabat sebagai Presiden Afsel, Mandela mengusulkan dan menandatangani UU yang mengijinkan praktek aborsi yang menurut laporan resmi, sejak disahkan, telah menelan korban hampir setengah juta bayi dalam kandungan.
Ia juga dikritik (namun dipuji oleh aktivis homoseksualisme) untuk dukungannya terhadap legalisasi pasangan sejenis di Afsel pada tahun 2006. Enam tahun setelah Belanda, yang adalah negara pertama yang mengambil langkah ini (Afrika Selatan mempunyai hubungan khusus dengan Belanda di antaranya karena hubungan kolonialisme di masa lalu).
Sikapnya sebagai seorang pemimpin politik serupa dengan mantan Uskup Agung Desmond Tutu sebagai seorang pemimpin agama dalam isu ini.
Yang juga dianggap sebagai kekurangannya adalah Mandela dituduh sebagai seorang komunis/marxis. Hal ini karena idealisme ekonominya serta afiliasinya di masa lalu. Namun sepertinya Mandela bukan seorang anti-agama, melainkan ia ingin meningkatkan taraf hidup banyak orang miskin, terutama rakyat asli Afrika sendiri.
Ia sempat ingin menasionalisasi ekonomi Afsel, namun tidak dilaksanakan karena alasan "investor.”
Sampai sekarang kebanyakan masyarakat asli Afrika masih terus bergumul dengan kemiskinan.
Di dalam diri setiap manusia ada pijar kebaikan yang menunjukkan siapa pemilik hidup kita, dan dosa akan terus berupaya untuk mengaburkannya.
Sama seperti Tata Madiba kita semua akan berpulang. Karena itu, kita perlu belajar meneladani apa yang baik dan menghindari apa yang tidak baik di mata Sang Pemilik Kehidupan. (+)


--------
PJ Smyth, “A South African Pastor Shares Why South Africans Honour Nelson Mandela,” Christianity Today.com, December 5, 2013. (Subscription)Andrew Ross Sorkin, “How Mandela Shifted Views on Freedom of Markets,” The New York Times, December 9, 2013 http://finance.yahoo.com/news/mandela-shifted-views-freedom-markets-015848071.html
John Henry Westen, “U.S. Catholic bishop calls Mandela’s support of abortion ‘shameful’, black leaders concur,” Lifesitenews.com,December 9, 2013,http://www.lifesitenews.com/news/u.s.-catholic-bishop-calls-mandelas-support-of-abortion-shameful-black-lead


Merayakan kehidupan seorang Nelson Mandela: Melawan kemiskinan dan ketidak-adilan (up-dated)

Written By Menara Penjaga on Selasa, 02 Juli 2013 | 01:47

Seorang gadis kecil memegang poster Nelson Mandela di luar rumah sakit di mana tokoh dunia ini dirawat
(foto: AP Photo/Muhammed Muheisen).

AFRIKA SELATAN, Pretoria (MP) -- Jutaan orang di seluruh dunia sedang menunggu kabar mengenai Nelson Rolihlahla Mandela, tokoh dunia dari Afrika. 

Sejak mantan presiden Afrika Selatan (Afsel) ini dimasukkan ke rumah sakit tanggal 8 Juni lalu, ungkapan doa dan simpati dalam berbagai bentuk terus diekspresikan, tak terkecuali di Facebook, Youtube dan halaman depan media massa.

Di Amsterdam, Belanda, rumor tentang kematiannya mendorong sebuah dewan setempat menghening cipta untuk mengenangnya, demikian dilaporkan Heraldsun.com.

Pahlawan Afrika yang lahir 18 Juli 1918 ini diberitakan sedang dirawat sebuah rumah sakit di Pretoria, Afsel, akibat infeksi paru-paru. Tata Madiba, demikian panggilan akrabnya, terjangkit tuberculosis ketika dipenjara (Reuters). (Madiba adalah nama marga etnik Xhosa.)

Penganut Kristen Methodist ini dihukum seumur hidup karena menentang pemerintah apartheid di Afsel. Setelah 27 tahun menjalaninya ia kemudian dibebaskan.

Apartheid adalah sistem pemerintahan yang menetapkan pembedaan antara orang berkulit putih (Kaukasian) dan yang non-Kaukasian. Tragisnya, sistem yang bertentangan dengan pemberitaan Kristen ini justru didukung oleh gereja lewat ajaran dan teologinya.

Di Afsel yang mayoritas penduduknya beragama Kristen sistem gereja pun menjadi apartheid.

Setelah dibebaskan Nelson Mandela menjadi orang Afrika pertama yang menjadi presiden Afsel (1994-1999). Bukannya membalas dendam pada musuh-musuh politiknya, ia justru merangkul mereka untuk memajukan Afsel.

Salah satu kutipan Papa Madiba yang terkenal adalah “Jika kau ingin berdamai dengan musuhmu, kau harus bekerja sama dengan musuhmu. Dengan demikian ia menjadi rekanmu.” (answerafrica.com)

Ia juga berpendapat bahwa “Tidak ada seorang pun yang dilahirkan membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang, atau agamanya. Orang pasti belajar untuk membenci, dan jika mereka bisa belajar membenci, mereka bisa diajar untuk mengasihi, karena kasih datang dari hati manusia lebih alami daripada lawannya (yaitu kebencian).” (answerafrica.com)

Menolak untuk mencalonkan diri kedua kali, pejuang pembebasan ini memfokuskan diri dalam pelayanan sosial memerangi kemiskinan dan HIV/AIDS lewat Yayasan Nelson Mandela.

Pada tahun 2005, dalam kunjungan tiga harinya di London, pemenang Nobel Prize tahun 1993 ini mengungkapkan, “Sama seperti perbudakan dan apartheid, kemiskinan bukanlah hal yang alami. [Kemiskinan] adalah akibat perbuatan manusia dan dapat diberantas lewat perbuatan manusia.” (The Telegraph)

Dalam kesempatan itu ia menyerukan perdagangan yang adil (fair trade), penghapusan utang, dan peningkatan bantuan dalam rangka memotong setengah dari kemiskinan global antara 2000 dan 2015.

Lahir dengan nama Rolihlahla, dalam bahasa Xhosa berarti “pembuat masalah,” ia telah memenuhi panggilan namanya: Membuat masalah sehingga sistem yang tidak menghargai kesakralan etnisitas manusia dihapus.

Nelson adalah nama baptis dari tokoh besar yang lahir di desa Mvezo di Umtatu, Afsel, dari orangtua yang sekalipun tak dapat membaca namun merupakan orang Kristen yang saleh (Mandela, 1994 dikutip Wikipedia). 

Ada yang mengatakan bahwa ia tidak begitu banyak membicarakan imannya. Tapi nampak ia sungguh-sungguh menghidupinya. (+)

-------
AFRIKA SELATAN MERAYAKAN ULANG TAHUN KE-95 NELSON MANDELA
AFRIKA SELATAN, Johannesburg (Sabtu, 20 Juli 2013) – Mantan presiden Afsel Nelson Mandela diberitakan tersenyum dan menganggukan kepalanya pada hari Kamis lalu (18 Juli) di mana tokoh dunia ini memperingati ulang tahunnya yang ke-95. Ia masih berada di Rumah Sakit Pretoria dan kabar baiknya ialah bahwa kesehatannya mengalami kemajuan.

Sebelumnya simbol anti-apertheid ini diberitakan berada di ambang kematian.

Hari spesial "bapak bangsa" ini diperingati dengan lagu "Happy Birthday" (selamat ulang tahun) yang dinyanyikan oleh anak-anak di sekolah-sekolah. Sebuah aksi amal untuk menghormatinya juga dilakukan selama 67 menit, melambangkan 67 tahun pelayanan masyarakat dari tokoh yang telah menginspirasi dunia ini. (CBN/MP)


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger